Rabu,
29 Agustus 2012
Selama
libur Lebaran, volume sampah di Kota Depok, Jawa Barat, meningkat 30 persen
daripada biasanya. Volume sampah di Depok biasanya sebanyak 1.200 meter kubik
per hari.
Itu sebabnya, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok
menambah intensitas pengangkutan sampah 400 meter kubik per hari. Namun, upaya
ini masih belum cukup sebab tumpukan sampah di pemukiman di luar kapasitas
tempat penampungan.
Sebagian warga membuang sampah di tempat pembuangan sampah
liar. ”Beberapa tempat pembuangan sampah sudah kami tutup pada tahun lalu,
sekarang warga memakainya lagi. Salah satunya di Jalan Raya Citayam yang berada
di sisi timur jalan. Keberadaan sampah di sana sangat mengganggu pengguna
jalan,” kata Kepala Bidang Kebersihan, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota
Depok Rahmat Hidayat, Selasa (28/8), di Depok.
Menurut Rahmat, petugas sudah menempatkan kontainer penampung
sampah, kemarin. Petugas akan mengangkut tumpukan sampah di kontainer tersebut
setiap hari. Lantaran menumpuk, petugas harus beberapa kali mengoperasikan
mobil pengangkut sampah dari permukiman warga.
”Jadi persoalannya bukan karena petugas yang tidak bekerja.
Mereka tetap masuk walaupun Lebaran. Mereka hanya libur pada tanggal 19
Agustus. Kemudian masuk lagi bekerja seperti biasa. Tumpukan sampah di
mana-mana karena volumenya yang meningkat dari biasanya,” katanya.
Rahmat mengatakan, puncak peningkatan volume sampah terjadi
pada saat malam takbiran, yang mencapai 1.500 kubik. Namun, dia yakin tumpukan
sampah di sejumlah tempat di Depok berangsur-angsur akan berkurang. Sebanyak
300 petugas pengangkut sampah akan terus bekerja setiap hari.
Any (32), warga Kelurahan Curug, Kecamatan Bojongsari, Kota
Depok, mengkritik pola penanganan sampah yang selama ini berjalan. Menurut dia,
harus ada upaya mengolahnya sehingga tidak menjadi beban lingkungan tempat
pembuangan sampah.
Pengolahan sampah seperti ini baru berjalan di sejumlah
tempat, salah satunya di Perumahan Griya Lembah Depok, Kecamatan Sukmajaya.
Warga setempat mendirikan bank sampah dan mengolahnya secara swadaya.
Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok Ulis
Sumardi mengakui, persoalan sampah di Depok terjadi dari hulu hingga hilir.
(NDY)
SOLUSI :
Sampah merupakan konsekuensi dari adanya
aktivitas manusia. Peningkatan jumlah penduduk dan gaya hidup sangat berpengaruh pada volume sampah yang
dihasilkan. Gaya hidup perkotaan yang cenderung konsumtif biasanya akan
menghasilkan volume sampah yang lebih besar. Apalagi di momentum lebaran,
dimana tingkat konsumsi masyarakat dalam keadaan sangat tinggi. Kesadaran
masyarakat akan kebersihan merupakan hal yang sangat penting. Seperti yang
diberitakan di atas, bahwa masyarakat Depok bahkan membuang sampah rumah tangga
ke tempat penampungan sampah yang telah ditutup. Hal ini dikarenakan kurangnya
kesadaran masyarakat akan kebersihan. Penumpukan sampah dapat dikurangi dengan
melakukan hal-hal berikut :
1.
Kurangilah
penggunaan barang atau material yang kita pergunakan. Karena semakin banyak
kita menggunakan material semakin banyak pula sampah yang dihasilkan.
2.
Manfaatkanlah
barang-barang yang masih bisa digunakan
3.
Mendaur
ulang sampah
4.
Pemilahan
sampah menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik dapat
dijadikan pupuk kompos.
Selain hal-hal
di atas, volume sampah dapat dikurangi dengan pengolahan sampah secara swadaya
seperti yang dilakukan oleh masyarakat di Perumahan Griya Lembah Depok. Pada
prinspnya pengelolaan sampah haruslah dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya.
0 komentar:
Posting Komentar